Naik Turun Karir Adriano yang Kontroversial

Naik Turun Karir Adriano yang Kontroversial

Adriano adalah eks pemain Inter Milan dan timnas Brazil yang sempat mencuri perhatian di pertengahan 2000-an. Namanya sempat melejit tinggi bersama Inter Milan dan juga timnas Brazil. Sayangnya, karir Adriano langsung menukik tajam tak berapa lama kemudian.

Di tahun 2005 hingga 2006, nama Adriano memang jadi bintang paling moncer. Namun setelah itu, pamor dan karirnya meredup dengan sangat cepat. Apa yang sebenarnya terjadi dengan pemain yang digadang – gadang jadi suksesor Ronaldo Brazil tersebut?

Cemerlang di Serie A Italia

Adriano memang mengawali karir di Serie A bersama Inter Milan apda 2001. Namun, di musim perdananyanya itu Adriano jarang dapat kesempatan main. Sehingga, ia dipinjamkan ke Parma untuk mendapatkan menit bermain. Dua musim bersama Parma, Adriano tampil moncer.

Inter pun kembali memanggil Adriano pada 2004. Di tahun inilah Adriano mampu menunjukkan kualitas terbaiknya. Dari 2004 sampai 2006, Adriano sukses membukukan 38 gol di ajang Serie A. Belum lagi ditambah pundi – pundi golnya di ajang Liga Champions Eropa.

Ia jadi sosok penting bagi Inter yang memenangi Scudetto Serie A pada tahun 2006 dan 2007. Juga menjuarai Coppa Italia apda 2005 dan 2006. Sayangnya, Adriano gagal mempersembahkan yang terbaik bagi Inter Milan di ajang Liga Champions Eropa.

Meski begitu, performa Adriano bersama Inter Milan mendapatkan pujian dari banyak pihak. Bahkan, Ia sempat masuk nominasi Ballon d’Or. Meski gagal, Ia berhasil masuk 8 besar. Ini jadi catatan spesial bagi dirinya.

Jadi Bintang di Timnas Brazil

Gemilangnya penamilan Adriano di Inter Milan bikin dirinya dipanggil ke timnas Brazil. Ia jadi andalan Brazil bersama dengan penyerang legendaris, Ronaldo. Meski saingannya adalah Ronaldo, Adriano tetap bisa tampil gemilang. Kemampuannya di depan gawang tak perlu diragukan lagi.

Puncaknya terjadi saat Adriano dinobatkan sebagai top skor di dua turnamen bergengsi yakni Copa America 2004 dan Confederations Cup 2005. Di dua turnamen tersebut timnas Brazil berhasil jadi juara juga. Hasil itu menjadikan nama Adriano semakin mencuat.

Ia mampu bersaing dengan Ronaldo untuk mengisi satu tempat di posisi penyerang utama Brazil pada Piala Dunia 2006. Saat itu, Ronaldo masih sangat tajam dan jadi andalan Real Madrid. Sementara Adriano adalah seorang “pendatang baru”.

Sayangnya, di ajang Piala Dunia 2006, Adriano tak bisa berbuat banyak. Ia gagal membawa Brazil mempertahankan gelar juara Piala Dunia setelah kalah dari Perancis di babak perempat final. Piala Dunia 2006 adalah penampilan pertama dan terakhir bagi Adriano di ajang empat tahunan tersebut.

Awal Penurunan Karir

Karir dari Adriano mengalami penurunan tajam akibat dari meninggalnya sang Ayah. Adriano memang sangat dekat dengan ayahnya. Ketika ayahnya meninggal pada 2006, hidup Adriano berubah 180 derajat. Ia jadi sering pesta dan mabuk – mabukan.

Hidup Adriano saat ini tak bisa dilepaskan dari yang namanya alkohol. Tiap akan dan setelah bertanding, konsumsi alkohol jadi ritual wajib bagi Adriano. Hal itu sempat membuat kapten Inter kala itu, Javier Zanetti cemas. Sebab, Adriadno adalah pemain berharga buat Inter.

Adriano juga sering telah datang ke latihan Inter Milan. Kebiasaan buruknya tersebut membuat pelatih Inter saat itu, Roberto Mancini mengeluarkan Adriano dari tim utama. Sejak saat itu, karir Adriano menukik tajam. Ia kehilangan semuanya. Mulai dari karir, uang hingga keluarga.

Ia sempat kembali ke Brazil untuk memperkuat Sao Paolo dan Flamengo. Meski masih sering cetak gol, namun kemampuan Adriano sudah menurun drastic. Ia sempat kembali ke Serie A untuk memperkuat AS Roma. Sayangnya, Ia gagal menunjukkan kualitasnya. Ia pensiun pada 2016 lalu di usia 34 tahun.

Kesimpulan

Adriano menjadi contoh kesekian dari pesepakbola yang pamornya turun akibat alkohol dan kedisiplinan. Padahal, Adriano punya segala macam hal yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pesepakbola besar dunia.

Sayangnya, situasi dan kondisi bikin karirnya meredup dengan cepat. Kisah Adriano ini pastinya jadi contoh bagi para pesepakbola muda di luar sana agar selalu konsisten dalam menjaga performa mereka di atas lapangan.

Pecinta sepakbola dan bulu tangkis. Menulis adalah salah satu cara terbaik saya mengekspresikan diri dan hobi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Menarik Lainnya: